Blog

GEBYAR JAMBORE 1000 PTK-PNF KE-2

10 Agustus 2008 | Catatan Perjalanan

Balai Diponegoro, Semarang, 10 Agustus 2008.

Setelah melaksanakan Jambore 1000 PTK-PNF untuk lomba karya nyata, lomba karya tulis, dan olah raga/seni di P2PNFI Regional II Semarang, puncak acara tersebut  dilaksanakan di Balai Diponegoro, Semarang.  Acara yang dihadiri oleh seluruh peserta lomba serta peserta dari kegiatan forum ilmiah, diklat instruktur kursus, bimbingan teknis program Dit. PTK-PNF, rakor Lembaga Konsultasi Bantuan Hukum dan Forum Evaluasi Tenaga KOV sejumlah hampir 1000 orang.

Acara yang dihadiri oleh Menteri Pendidikan Nasional, Bapak Bambang Soedibyo, Gubernur Jawa Tengah yang diwakili Asisten III, Dirjen PNFI, Hamid Muhammad, Ph.D, Direktur Dikmas, Dr. Wartanto, Direktur Profesi Pendidik, Drs. Achmad Dasuki, MM, M.Pd, Kepala P2PNFI Regional II, Dr. Ade Kusmaedi  beserta undangan lainnya dilaksanakan tepat pukul 19.30. Acara tersebut dimulai dengan tarian-tarian tradisional dari tuan rumah Semarang.

Acara dilanjutkan dengan sekapur sirih dari Dirjen PMPTK, Dr. Baedhowi. Dalam sambutannya dijelaskan bahwa kegiatan Jambore Nasional bagi pendidik dan tenaga kependidikan di jalur pendidikan nonformal  merupakan momentum yang penting. Kegiatan tersebut dapat dijadikan sumber motivasi untuk meningkatkan kinerja, memupuk wawasan, dan memperoleh umpan balik guna peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di jalur pendidikan nonformal. Oleh karena itu, ia berharap agar setiap penyelenggara program pendidikan nonformal di lapangan juga ikut aktif dalam mengembangkan dan melayani kebutuhan masyarakat.

”Penyelenggaraan Jambore Nasional pendidik dan tenaga kependidikan di jalur pendidikan nonformal juga sangat sejalan dengan semangat dan visi Departemen Pendidikan Nasional dalam upaya menciptakan ”Insan Indonesia yang Cerdas Komprehensif dan Kompetitif” yang sering didengungkan oleh Bapak Menteri Pendidikan Nasional, yaitu melalui olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga,” ujarnya pada akhir sambutannya.

Rounded Rectangle: ”Penyelenggaraan Jambore Nasional Pendidik dan Tenaga Kependidikan di jalur Pendidikan Nonformal ini juga sangat sejalan dengan semangat dan visi Departemen Pendidikan Nasional” ujar  Baedhowi.Setelah pembukaan tersebut acara kemudian dipandu oleh David Chalik dan Anya Dwinov sebagai MC dan group lawak Cagur yang bertugas memandu pembacaan pemenang dari LKN/LKT/ORSENI sehingga pengumuman terasa menjadi lebih santai dengan lawakan-lawakan yang membuat tertawa penonton. Pengumuman pemenang dibagi menjadi tiga sesi, yaitu pengumuman pemenang LKN, LKT dan PORSENI. Setiap sesi diselingi dengan hiburan oleh artis nasional Iis Dahlia dan artis lokal Bagas dan Lintang.

Acara  semakin terasa khidmat karena setelah sekapur sirih dari Dirjen dilanjutkan dengan tontonan berkelas dari grup orkestra Yogya Philharmonic dengan konduktor muda Harijanto BW, seorang mahasiswa seni Yogyakarta. Semua peserta mendengarkan dengan khidmat setiap instrumen dari orkestra tersebut. Alunan berbagai macam alat musik ditata sedemikian harmonis  sehingga  seolah-olah mengajak penonton untuk masuk ke jiwa dari musik tersebut. Dalam kesempatan tersebut terdapat lima  lagu yang diperdengarkan seperti Kulihat Ibu Pertiwi yang sudah diubah gubahannya sehingga mampu menyentuh perasaan dari para pendengarnya, Hymne HIMPAUDI, Hymne Keaksaraan bahkan nyanyian dari Group Queen, Bohemia Marapshody, yang mempunyai tingkat kesulitan yang cukup tinggi jika dimainkan menjadi musik instrumen.

Pada acara puncak Gebyar diumumkan juara umum yang dibacakan oleh Bapak Bambang Soedibyo. Sebelum itu,  dalam sambutannya Bapak Menteri mengatakan amat menghargai acara ini. Bahkan ia mengatakan apresiasinya.  Tidak semua event nasioal beliau hadiri, akan tetapi khusus acara Jambore PTK-PNF ia selalu menyediakan waktunya sebagai bukti bahwa pendidikan nonformal itu teramat penting dalam institusi pendidikan kita. Khususnya untuk membantu pendidikan yang tidak dapat dilayani oleh pendidikan formal.

Ia juga menekankan agar pendidikan nonformal mempunyai tiga karakteristik yaitu mandiri, berjiwa wirausaha, kreatif atau inovatif. Mandiri, artinya pendidikan nonformal itu berasal dari masyarakat  maka masyarakat tersebut yang  dapat membesarkannya sehingga mampu berdiri sendiri. Ini juga disebabkan bahwa pendidikan nonformal tidak dapat distandarkan  secara keseluruhan. “Ini merupakan kekayaan dari pendidikan nonformal,” ujarnya.

Sedangkan untuk karakteristik kreatif atau inovatif, pendidikan nonformal mempunyai beragam bidang yang digalinya. Oleh karena itu, pendidikan nonformal  harus kreatif dan  inovatif demi perkembangan pendidikan nonformal menjadi lebih baik. Ini menjadi sangat penting karena pendidikan nonformal merupakan hasil inovasi dari masyarakat. Jadi, penggunanya terlebih dahulu adalah masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain, dari masyarakat  untuk kepentingan masyarakat.

Ciri kedua, berjiwa wirausaha, pendidikan nonformal harus mampu memberikan nilai lebih kepada yang melaksanakannya. Contohnya  life skill jika  dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka akan memberikan kontribusi yang cukup baik bagi kehidupan masyarakat pada umumnya.

Dalam akhir sambutannya, Mendiknas mengumumkan pemenang  Jambore 1000 PTK-PNF yaitu Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogjakarta. Keduanya menjadi pemenang karena  kedua-duanya berhasil mengumpulkan sejumlah medali yang sama untuk juara 1, 2 dan 3. dengan rincian:  untuk juara I berhasil memenangkan 2 lomba, 3 lomba untuk juara II dan 4 lomba untuk juara III.

Segenap jajaran Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal mengucapkan selamat atas keberhasilan Jawa Tengah dan DI Yogjakarta menjadi juara umum kembar, sampai bertemu pada tahun yang akan datang dalam Jambore 1000 PTK-PNF yang ke tiga.

(Admin)
powered by MyIndo | clean theme