Orsosmas Mendukung Diklat Tutor KF
Bandung, 22 Agustus 2008.
Salah satu upaya Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal (Dit. PTK-PNF) untuk meningkatkan mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan NonFormal (PTK-PNF) adalah melakukan kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau organisasi sosial masyarakat (Orsosmas) yang sama-sama berkomitmen dalam mengembangkan pendidikan nonformal.
Salah satunya adalah Wanita Islam, sebagai salah satu Orsosmas yang peduli terhadap pendidikan nonformal. Selama ini, organisasi yang bersifat sosial ini peduli terhadap pendidikan, bahkan saat ini sedang mencoba mengembangkan ekonomi syariah. Organisasi yang peduli terhadap masyarakat berstatus rendah ini telah melakukan beberapa kali Diklat bagi PTK-PNF bekerja sama dengan Dit. PTK-PNF. Salah satunya yang saat itu sedang dilakukan adalah pendidikan dan pelatihan bagi tutor KF sejumlah 30 orang dari Jawa Barat, Banten dan Lampung bahkan ada beberapa berasal dari DKI Jakarta.
Direktur PTK-PNF, Erman Syamsuddin diberi kehormatan untuk membuka acara ini bersama dengan Bapak Herang, Kasubdin PLS Provinsi Jawa Barat beserta Ketua Umum Pengurus Pusat Wanita Islam, Hj. Sri Harti Djauhari, S.Ag, MM, Ketua Program Keaksaraan, Dra. Kamsani Chaniago, M.Pd serta pengurus pusat lainnya dan pengurus daerah Jawa Barat Wanita Islam. Dalam laporan kegiatan yang dilaporkan oleh Dra. Rodliyah Khuza’I, M.M.Ag sebagai ketua panitia sekaligus ketua umum PW Jawa Barat mengungkapkan bahwa organisasi Wanita Islam amat peduli dengan pendidikan nonformal, sehingga Direktorat PTK-PNF merupakan mitra bagi Wanita Islam.
Kasubdin PLS, Bapak Herang dalam sambutannya sebelum dibuka oleh Direktur mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan perhatian dari Pemerintah untuk mengentaskan buta aksara di Jawa Barat. Ia menambahkan selain keaksaraan, PAUD juga penting sebagai salah satu upaya pencegahan dini untuk keaksaraan. “Selama ini PAUD masih belum mendapatkan perhatian yang sangat besar, belum menjadi prioritas,” ujarnya.
Menurut Herang selain keaksaraan fungsional yang terus diupayakan melalui calistung juga terdapat tiga keaksaraan lain yang yang juga perlu diperhatikan yaitu, keaksaraan teknologi yang bertujuan agar masyakat melek teknologi, keaksaraan kecakapan hidup yang bertujuan memberikan keterampilan hidup dan keaksaraan inovatif bertujuan untuk memberikan kemampuan masyarakat dalam memecahkan masalah.
Saat ini, di Jawa Barat terdapat 546 ribu buta huruf yang 68% adalah kaum hawa, “Ini merupakan tanggung jawab dari kita semua, salah satunya Wanita Islam,” ujarnya. Dinas Pendidikan Jawa Barat telah berkomitmen untuk mengalokasikan dana APBD bagi pendidikan sebesar 20% pada tahun 2009, maka khusus untuk pendidikan nonformal mendapatkan dana sebesar 34 M. “Salah satu programnya adalah mengentaskan buta huruf dari Jawa Barat yang saat ini masih menjadi kantung buta huruf,” tegas Herang. Sehingga kerja sama kedepan dengan Wanita Islam akan terus dilakukan, terlebih lagi ternyata terdapat 68% dari keseluruhan buta huruf di Jawa Barat adalah wanita.
Dengan mengucapkan “Basmalah” Direktur PTK-PNF membuka acara diklat bagi Tutor KF tersebut. Dalam arahannya, Direktur PTK-PNF mengungkapkan beberapa hal penting mengenai keaksaraan fungsional. Ia menjelaskan bahwa ada keterkaitan yang begitu jelas antara HDI dengan jumlah buta huruf yang ada, karena KF merupakan salah satu indikatornya.
Selain itu ditekankan juga pentingnya peranan Wanita Islam sebagai Orsosmas dalam mengentaskan buta huruf, karena sebagai orsosmas WI mempunyai akar-akar organisasi atau nilai historis di lapisan masyarakat. Hal tersebut amat membantu penuntasan program KF yang akan dilakukan oleh Pemerintah.
Lanjutnya, dalam peningkatan mutu tutor KF terdapat kesulitan-kesulitan yang semuanya bermuaran dari karakteristik tutor KF itu sendiri yang bersifat On-Off. Keberadaan tutor KF tergantung dari warga belajar yang dikelolanya, sedangkan warga belajar KF ini bersifat amat dinamis. Dengan demikian, diperlukan pendekatan-pendekatan yang khusus untuk membuat mereka mau belajar. Lucunya lagi adanya warga belajar yang kembali buta huruf bila dalam proses pembelajaran tidak diberikan keterampilan hidup untuk menggunakan keterampilan membaca tersebut.
Menurut Erman sesungguhnya ada yang perlu diwaspadari dalam KF ini, yaitu “Buta Huruf Kembali.” Ada tiga hal yang mempengaruhinya, yaitu anak yang tidak tersentuh PAUD, anak yang DO pada kelas awal, dan orang yang tidak mempunyai keterampilan hidup. Provinsi yang banyak buta huruf dengan kriteria seperti ini adalah Kalimantan Barat, Bali, dan Lampung.
Dalam akhir arahannya Erman menegaskan agar tidak memformalkan pendidikan nonformal, ini disebabkan karena karakteristik dari pendidikan nonformal yang berbeda dengan pendidikan formal.
(Admin)