Problematika PPAUD dan PKF
Lampung, 26 Agustus 2008.
Setelah dialog interaktif, Erman Syamsuddin melanjutkan pertemuannya dengan tutor PAUD, tutor keaksaraan fungsional dan warga belajar Paket C sejumlah hampir 60 orang. Pertemuan ramah-tamah ini dimaksudkan Direktur untuk mendengar keluhan atau masukan-masukan dari mereka guna lebih meningkatkan program bagi Direktorat PTK-PNF.
Acara yang dipandu Ertati, Kepala BPKB Lampung tersebut berlangsung dengan meriah, ketika Erman memasuki ruangan disambut nyanyian oleh peserta dengan sukacita menyanyikan lagu “Selamat Datang,” terasa begitu menggugah hati.
Sebelum mendengarkan keluhan dan masukan dari para PTK-PNF Erman mencoba memberikan sedikit informasi tentang apa yang saat ini dikerjakan oleh instansi yang sedang dipimpinnya dan pesan-pesan bagi peserta yang hadir saat itu. Khusus untuk tutor keaksaraan ia berpesan untuk dapat menjaga warga belajarnya agar tidak buta huruf kembali. Salah satu caranya adalah dengan memberikan keterampilan hidup bagi mereka sehingga mereka dapat mempergunakan apa yang mereka pelajari selama ini dalam kehidupan mereka dengan berinteraksi dengan yang lain. Bagi pendidik PAUD, khusus untuk HIMPAUDI, ia meminta agar pendidik PAUD jangan terlalu percaya diri dengan pembelajaran yang telah diberikan, karena apabila ada kesalahan dalam memberikan pengajaran maka akan membahayakan tumbuh kembang anak. “Jangan sampai para pendidik PAUD ini hanya dengan modal nekat akan tetapi tetap perlu adanya orientasi pembelajaran atau melalui sentuhan pelatihan,” jelasnya.
Kemudian dijelaskan bahwa menurut sebuah penelitian ada korelasi antara anak yang sejak dini mendapatkan PAUD dengan yang tidak mendapatkan PAUD. Anak yang sejak dini mendapatkan PAUD relatif tidak menjadi buta huruf atau bahkan mereka amat jarang yang DO dari sekolahnya selain karena alasan ekonomi. Ironisnya lagi mereka yang tidak mendapatkan PAUD ketika mereka memasuki sekolah dasar kemudian mereka DO, mereka akan menjadi lebih mudah lagi untuk kembali buta huruf.
Dari pertemuan tersebut beberapa permasalahan yang terjadi di lapangan. Untuk PAUD, ada peserta yang menginginkan Pemerintah mensosialisasikan antara peran PAUD pendidikan formal dan PAUD pendidikan nonformal kepada masyarakat. Begitu juga tentang insentif PAUD yang diberikan. Peserta secara keseluruhan merasakan belum menerimanya. Sedangkan untuk tutor keaksaraan, mereka mengharapkan ada kesempatan untuk mendapatkan beasiswa S1.
Permasalahan PAUD jalur pendidikan formal dengan pendidikan nonformal menurut Erman memang sudah sejak lama ada, “Tidak usah diperbesar permasalahan ini, untuk TK melayani anak berusia 4-6 tahun dan untuk PAUD nonformal 0-4 tahun,” tegasnya. Tentang permasalahan insentif PAUD, Erman menegaskan bahwa tidak hanya Pemerintah pusat yang dapat memberikan insentif tersebut, pemerintah daerah juga harus ikut memperhatikan, sebagai contohnya adalah Kabupaten baru Metro. “Untuk beasiswa memang untuk S1 ada, tahun depan akan segera disosialisasikan, dan yang terpenting dalam beasiswa tidak ada dikotomi antaran PNS dan non-PNS. Jadi, tutor KF pun mempunyai kesempatan,” tegas Erman.
Memang permasalahan dalam pendidikan nonformal dengan segala dinamikanya memerlukan sebuah strategi khusus dalam penanganannya. “Jangan memformalkan pendidikan nonformal,” demikian sering kali Direktur PTK-PNF mengungkapkan kegelisahannya.
(Admin)